7 Kasus Kekerasan Fisik Dilakukan Aparat Selama 2017 - Warta 24 Sulawesi Selatan
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

7 Kasus Kekerasan Fisik Dilakukan Aparat Selama 2017

7 Kasus Kekerasan Fisik Dilakukan Aparat Selama 2017

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - LBH Makassar mencatat selama tahun 2017, ada tujuh kasus kekerasan fisik yang dilakukan oleh aparat dengan total jumlah korban sebanyak 12 orang.Dari ka…

7 Kasus Kekerasan Fisik Dilakukan Aparat Selama 2017

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - LBH Makassar mencatat selama tahun 2017, ada tujuh kasus kekerasan fisik yang dilakukan oleh aparat dengan total jumlah korban sebanyak 12 orang.

Dari kasus tersebut, 5 kasus dilakukan oleh anggota polisi dengan 8 orang korban, satu kasus yang dilakukan anggota TNI dengan tiga orang korban, dan satu kasus yang dilakukan oleh aparat satpol PP dengan satu orang korban.

Kiordinator Bidang Hak Sipil LBH Makassar, Abdul Azis Dumpa mengatakan, persebaran kasus kekerasan aparat ini terjadi di Kota Makassar, Kabupaten Wajo, Luwu Utara, Bone dan Maros. Adapun tindakan kekerasan yang dialami adalah penganiayaaan, penyiksaan, salah tangkap, penembakan, dan penangkapan dan penahanan sewenang-wenang.

"Praktik keker asan yang dilakukan aparat terus terjadi dari tahun ke tahun. Tanpa terkecuali dalam proses hukum penyelidikan dan penyidikan perkara. Hal ini mengindikasikan reformasi kepolisian berjalan di tempat,"ujar Azis, Sabtu (30/12/2017).

Azis mengatakan, pola penyiksaan yang dilakukan polisi khususnya pada kasus salah tangkap dilakukan dengan cara dipukul dengan tangan kosong bertubi-tubi, ditendang dan diinjak, kepala ditutup dengan kantong plastik lalu disiram air hingga kesulitan bernafas, diancam dengan senjata api dan ditembak.

Baca Juga

  • Tak Terima Ditilang, Daniel Patahkan Bahu Petugas
  • 14 Orang Tewas Dalam Konfrontasi Dengan Polisi di Veracruz
  • Kasus Anak di Pinrang Meningkat Tajam

Ia mencontohkan pola ini terjadi pada Ruslan, yang dituduh mencuri motor hanya karena saat penangkapan ia bersama te rduga pencurian motor, Nawir di Maros, 27 Februari 2017 silam. Ruslan mengaku dibawa ke tempat kosong di luar kantor polisi dengan mata tertutup kepala terbungkus plastik. Ruslan dipaksa mengaku terlibat dalam pencurian dan disiksa dan dipukul dan ditembak di kaki kanannya.

"Namun pada 24 Juli 2017 PN Maros membebaskan Ruslan dari segala dakwaan Jaksa Penuntut Umum. Majelis Hakim mengamini adanya penyiksaan yang dilakukan oleh Polisi," sambung Azis.

Azis pun menyebut polri cenderung tidak serius menegakkan hukum ketika aparat kepolisian sendiri yang melanggar. Hal ini dikarenakan dari beberapa kasus yang dilaporkan di SPKT Polda Sulsel, kasus tersebut hanya mandek.

"Institusi polri cenderung melindungi anggotanya dari jerat hukum akibatnya korban-korban kekerasan oknum polisi tak kunjung mampu menegakkan keadlian dan kepastian hukum. Ini juga menyebabkan kekerasan yang dilakukan oknum aparat terus bertambah," pungkas Azis.

Sumber: Google News | Warta 24 Luwu Utara

Tidak ada komentar