Para Petahana 'Pemborong' Parpol di Pilkada Serentak di Sulsel - Warta 24 Sulawesi Selatan
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Para Petahana 'Pemborong' Parpol di Pilkada Serentak di Sulsel

Para Petahana 'Pemborong' Parpol di Pilkada Serentak di Sulsel

Para Petahana ‘Pemborong’ Parpol di Pilkada Serentak di Sulsel …

Para Petahana 'Pemborong' Parpol di Pilkada Serentak di Sulsel

Para Petahana ‘Pemborong’ Parpol di Pilkada Serentak di Sulsel Submitted by Ihwan Fajar on 29 December 2017 Pilkada
Info grafis petahana di 12 Pilkada serentak di Sulsel.(KABAR.NEWS/Arya Wicaksana)


KABAR.NEWS, Makassar - Provinsi Sulsel akan menggelar Pilkada Serentak 2018 di 12 Kabupaten dan Kota serta di tingkat provinsi untuk Calon Gubernur. Dari 12 Kabupaten/Kota yang mengge lar Pilkada, 7 di antaranya diikuti oleh kandidat petahana.


Menariknya, kandidat petahana yang kembali maju bertarung di Pilkada serentak 2018 di Sulsel, nyaris mendominasi dukungan partai politik. Baik parpol parlemen maupun non parlemen. Hanya petahana Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto yang gagal membangun koalisi gemuk di Pilwalkot Makassa, karena maju melalui jalur perseorangan.


Di Pilwalkot Palopo misalnya, petahana Wali Kota Palopo petahana Judas Amir, dipastikan telah mengantongi sedikitnya 8 surat rekomendasi partai politik (Parpol), yakni NasDem, Partai Golkar, PDIP, PKS, Partai Demokrat, PKB dan baru - baru ini PAN menyatakan dukungan kepada Judas Amir - Rahmat Masri Bandaso.


Fenomena yang sama terjadi di Pilkada Bone. Pasangan kandidat petahana Andi Fahsar Padjalangi - Ambo Dalle nyaris memborong semua rekomendasi parpol yang memiliki kursi di DPRD Kabupaten Bone. Ia berpendapat, usungan Parpol bukan untuk menutup pintu kandidat lain.


“Saya tidak pernah berpikir ingin monopoli Parpol,” kata Andi Fahsar Padjalangi, saat ditemui di salah satu warkop di Kota Makassar.


Selain di dua daerah tersebut, kandidat petahana di Pilwalkot Parepare, Taufan Pawe juga menjadi lirikan sejumlah parpol. Di Pilwalkot nantinya, Taufan dipastikan diusung oleh Partai Golkar, Demokrat, PDIP, PBB dan PKB.


Begitu juga di Pilkada Bumi Massenrempulu Kabupaten Enrekang, petahana Muslimin Bando juga diusung oleh sejumlah koalisi Parpol di antaranya Partai Golkar, Demokrat, PAN, PDIP dan Partai Hanura.



Sedikit berbeda dengan kandidat petahana di Pilkada Sinjai, yakni Sabirin Yahya. SBY akronim Sabirin Yahya untuk saat ini baru 3 Parpol yang menyatakan mendukung antara lain Partai Demokrat, PAN, dan PDIP. Namun, pundi - pundi dukungan parpol berpeluang menyusul tiga partai tersebut.


Akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto berpendapat bahwa pertimbangan Parpol untuk mengusung para petahana karena faktor pragmatisme elektoral. Menurutnya, petahana selalu punya kans lebih besar untuk menang, di samping memiliki mesin birokrasi instrumen politik yang lain untuk bekerja.


“Para kepala daerah petahana juga punya previlege hubungan dengan partai politik, dalam jabatannya sebagai pembina partai politik. Kalau selama menjabat, kepala daerah petahana mampu mengakomodasi kepentingan partai politik maka sebaliknya partai politik pun akan memprioritaskan sang kepala daerah untuk diusung kembali,” katanya.


Tetapi dalam situasi tertentu, lanjut Luhur, usungan parpol ke kandidat petahana tergantung dari akses ke elit pimpinan pusat partai yang lebih menentukan.


“Banyak petahana yang gagal diusung p artai politik, padahal mampu meyakinkan elit DPC dan DPW, hanya saja kurang memiliki akses pada elit DPP,” kata dia.

Direktur Indeks Politica Indonesia (IPI) Suwadi Idris mengingatkan kandidat petahana untuk belajar dari kekalahan Burhanuddin Baharuddin - M. Natsir Ibrahim (Bur-Nojeng) dengan koalisi gemuknya di Pilkada Takalar tahun 2017.


“Saya pikir kandidat petahana harus belajar dari koalisi gemuk Pilkada Takalar. Parpol memang berpengaruh untuk mendongkrak elektoral, tapi yang paling utama adalah citra kandidat petahana,” ujar Suwadi Idris kepada KABAR.NEWS, Rabu (27/12/2017).


Kala itu, pasangan Bur-Nojeng kalah dari pasangan Syamsari Kitta - Achmad Dg Se're yang hanya diusung dua koalisi parpol. Sementara Bur-Nojeng diusung kurang lebih 10 partai politik.


Suwadi berpendapat bahwa isu kasus korupsi yang mendera Burhanuddin menjelang hari H pemilihan, menggerus citra dan elektabilitas meski Bur - Nojeng diunggulkan oleh sejumlah hasil survei.


“Kalau citranya baik, saya pikir kerja - kerja elektoral akan mudah. Tapi kalau citranya buruk, meskipun diusung banyak parpol menurut saya sulit,” tandas Suwadi.

  • Arya Wicaksana
Sumber: Google News | Warta 24 Palopo

Tidak ada komentar