Terkait Aliran Tajjul Khawatia, Ini Fatwa MUI Jeneponto - Warta 24 Sulawesi Selatan
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Terkait Aliran Tajjul Khawatia, Ini Fatwa MUI Jeneponto

Terkait Aliran Tajjul Khawatia, Ini Fatwa MUI Jeneponto

Ketua MUI Jeneponto KH Jumatan Rate. (Sulselsatu.com/Dedy)SULSELSATU.com, JENEPONTO â€" Keberadaan pengikut aliran Tajjul Khawatia Syekh Yusuf di Kampung Butta Le’leng…

Terkait Aliran Tajjul Khawatia, Ini Fatwa MUI Jeneponto

Ketua MUI Jeneponto KH Jumatan Rate. (Sulselsatu.com/Dedy)

SULSELSATU.com, JENEPONTO â€" Keberadaan pengikut aliran Tajjul Khawatia Syekh Yusuf di Kampung Butta Le’leng, Desa Datara, Kecamatan Bontoramba ditanggapi langsung oleh Ketua umum Majelis ulama Indones (MUI) cabang Jeneponto, KH. H. Jumatan Rate.

“Sesungguhya dari segi aqidahnya tidak sesat, karena mereka meyakini al-quran dan hadis sebagai peganganya. Cuma pelaksanaan syariatnya itu di lapangan bertentangan dengan syariat yang dilaksanakan oleh Rasulullahyang bertentangan di antaranya, shalat cepat, shalat tergopoh-gopoh (tergesah-gesah),” ujar KH. Jumatan Rate, Sabtu 30 Desember 2017.

Setelah melakukan pengkajian serta melihat video t ata cara shalat para pengikut aliran Tajjul Khawatiah Syekh Yusuf ini, Jumatan menyimpulkan, bahwa tata cara shalat mereka itu sudah menyimpang.

“Itu yang kita saksikan lewat video maupun kesaksisan dari masyarakat setempat, sehingga mengundang masyarakat gelisah, risau, dan menganggap bahwa ajaran itu ada yang menyimpang, nah memang itu perbuatan yang menyimpang,” katanya.

Perbuatan yang dianggap menyimpang, karena ada keterangan dari Rasulullah yang mengatakan, bahwa shalat yang tergopoh-gopoh itu yang tidak punya tuma’ninah. Dan jika tidak tumaninah maka dianggap oleh Rasulullah adalah belum shalat, artinya belum shalat berarti tidah sah shalatnya

“Shalat cepat itu tidak ada Tuma’ninahnya, artinya shalat tidak sah. Kedua shalanya itu, shalat yang tidak membacakan Alfatiha, kenapa, karena mereka menganggap kalau shalat itu cukup dia membayangkan wajah maha gurunya, itulah tuhanya menurut mereka. Inilah salah satu yang menyimpang dalam suatu aqida h,”ujarnya.

“Kita MUI Jeneponto melihat sesatnya mereka itu dari segi dari pelaksanaan syariat. Bukan lagi diduga, tapi memang Nabi sudah menjelaskan shalat seperti itu (Shalat yang sah red),” ujar Jumatan.

Bukti kesesatan dari ajaran Tajjul Khawatia Syekh Yusuf yang berasal dari Kabupaten Gowa itu, karena menganggap mereka tidak perlu ibadah haji. Bahkan para pengikut aliran ini memegang tiket yang dianggap sebagai tiket masuk surga.

“Mereka juga melarang ibadah haji, nah larangan beribadah haji itu adalah ajaran yang sesat dan menyesatkan. Ada lagi, mereka juga punya kartu tiket masuk surga, itu kartu katanya biar tidak shalat kalau mereka meninggal, foto copynya itu di simpang di keteaknya, masukmi nanti di surga. Apakah guru tarekatnya ini yang punya surga,” katanya.

“Kita memberikan fatwa, tolong masyarakat-masyarakat kita yang sudah terlanjur mengikuti aliran Tajju Khawatia Syekh Yusuf, melaksanakan ibadah yang menyimpang daripada syaria t yang dicontohkan oleh Nabi, tolong bertaubatlah kepada jalan yang benar supaya selamat,”tegas Jumatan.

Penulis: Dedy
Editor: Alam Malik

Sumber: Google News | Warta 24 Jeneponto

Tidak ada komentar